JENEPONTO – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Jeneponto menggelar pelatihan teknik menulis berita yang di gelar di Aula Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jeneponto, Selasa (21/11/2023)

Pelatihan jurnalistik berupa teknik menulis berita tersebut di buka langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jeneponto Nur Alim Basyir dan diikuti oleh para guru dan pegiat literasi baca di desa-desa Butta Turatea.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Dinas perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jeneponto.

Dalam sambutannya, Nur Alim menyampaikan bahwa kegiatan ini di laksanakan dalam rangka meningkatkan minat para pegiat literasi baca yang ada di desa agar dapat menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat melalui tulisan di media online.

Oleh karena itu, Ia berharap kepada para peserta teknik menulis berita agar dapat mengikuti dan menyimak dari pemateri agar nantinya dapat juga membuat rilis berita yang akan dimuat di media online maupun media cetak, kata Nur Alim.

Dalam pelatihan teknik menulis berita yang digelar kali ini menghadirkan pemateri Ketua Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Kabupaten Jeneponto Arifuddin Lau.

Dalam pemaparan materinya, Arifuddin Lau menjelaskan bahwa dalam rilis berita kalimat pertama harus menarik perhatian pembaca dan menyatakan dengan jelas maksud rilis berita tersebut.

Rakyat News
Ketua JOIN Jeneponto Arifuddin Lau Berfoto.Bersama Para Peserta Pelatihan Teknik Menulis Berita

Dalam menulis judul rilis berita ada tiga point penting yang harus diperhatikan, lanjut Arifuddin, yaitu pertama tulislah judul yang orisinil. Judul harus singkat, jelas dengan kata lain, suatu versi yang sangat padat dari paragraf utama dalam rilis pers yang akan dikirim.

Kedua, cara paling sederhana untuk membuat judul rilis pers adalah dengan mengambil kata kunci paling penting dalam rilis pers, dari kata-kata kunci, cobalah untuk memulai uraian kalimat, jelasnya.

Kemudian yang ketiga kata Arifuddin, rilis ditulis sebagaimana melihatnya di berita. Kebanyakan jurnalis sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mencari informasi dari berbagai sumber, sehingga observasi dan pengamatan sangat dibutuhkan untuk melengkapi sumber berita tersebut, imbuh Arifuddin.