RAKYAT.NEWS, MAKASSAR – Menyambut penentuan Wakil Dekan (WD) FKIK UIN Alauddin, apapun hasilnya dan siapa yang terpilih, itu adalah takdir. Melawan Takdir atau mengikuti arus takdir sesuai passion jabatan kandidat terpilih.

Muhammad Akmal, S.Farm, M.Farm., Apt, alumni Fakultas Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) pada tahun 2011 yang saat ini bernama DEMA FKIK, dengan tegas mengkritik proses issue pengisian jabatan Wakil Dekan 3 (WD3) FKIK. 

Menurutnya, situasi ini mengundang pertanyaan serius terkait transparansi dan integritas dalam manajemen fakultas yang mengesampingkan kualifikasi dosen internal fakultas yang bersyarat.

Sejak tahun 2006, posisi WD3 di FKIK selalu diisi oleh dosen dari eksternal fakultas, macam-macam lah asalnya pernah dari Fak. Syariah, fak. Adab dan FEBI. Muhammad Akmal menganggap ini sebagai sebuah paradoks, mengingat banyak dosen internal yang memiliki kualifikasi dan pengalaman keorganisasian bidang kemahasiswaa yang sesuai untuk jabatan tersebut. 

“Kami tahu betul karena beberapa nama calon wakil dekan yang dirilis panitia pernah diajar dan berinteraksi. Ia berpendapat bahwa pengisian jabatan WD3 seharusnya dilakukan berdasarkan kompetensi dan dedikasi terhadap FKIK, bukan sekadar faktor kedekatan atau hubungan eksternal,” ungkapnya

Pentingnya jabatan WD3 di FKIK tidak boleh dianggap sepele. Ini adalah posisi kunci yang berpengaruh besar dalam mengoordinasikan kegiatan dan aspirasi mahasiswa, terutama dalam konteks lembaga kemahasiswaan HMJ, SEMA dan DEMA FKIK. Muhammad Akmal menyatakan bahwa hanya dosen organik yang dapat memahami secara mendalam kondisi, kebutuhan, dan dinamika mahasiswa FKIK.

Muhammad Akmal juga mencatat bahwa DEMA FKIK beberapa kali menghadapi pembekuan, dan peran WD3 sangat vital dalam mengatasi situasi tersebut. Ia merasa bahwa selama ini, penunjukan dosen eksternal untuk jabatan ini mungkin menjadi salah satu faktor yang menghambat resolusi cepat atas masalah-masalah tersebut.

Pada saat panitia penjaringan untuk jabatan WD3 FKIK mengumumkan sembilan kandidat yang mendaftar, kehadiran seorang dosen eksternal FKIK di antara mereka menjadi sorotan tersendiri. Muhammad Akmal menilai bahwa ini adalah kesempatan untuk merombak kebijakan pengisian jabatan di FKIK dan mengutamakan kualifikasi, kompetensi, serta dedikasi terhadap kepentingan mahasiswa dan fakultas.

Kritik Muhammad Akmal bukan semata-mata untuk mengurangi peran dosen eksternal dalam fakultas, tetapi untuk memastikan bahwa proses pengisian jabatan WD3 para dosen kami dari internal FKIK diberikan ruang dan saya yakin mereka mampu. kami menghargai niat pengabdiannya di fakultas tempat kami berproses, tapi saya rasa ini kurang elok saja kenapa selalu ada dari eksternal fakultas.

Oleh karena itu, Muhammad Akmal menekankan pentingnya mahasiswa dan dosen untuk berpartisipasi aktif dalam proses penjaringan dan seleksi untuk jabatan tersebut agar mereka dapat memilih calon yang paling sesuai dengan kebutuhan fakultas dan mahasiswa.

Muhammad Akmal berharap agar isu kritik ini dapat menjadi titik awal untuk perubahan yang lebih baik di FKIK, di mana seluruh komunitas akademik dan mahasiswa dapat berkolaborasi untuk memastikan kepentingan fakultas dan mahasiswa diutamakan dalam setiap pengambilan keputusan.