RAKYAT NEWS, JENEPONTO— Di tengah polemik perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 H, sebuah pesan menohok namun menyejukkan disampaikan dari mimbar Jumat Masjid Kasran Aljawar, Jl. Lingkar, Jum’at 20 Maret 2026.

Khatib, Ust. Salihuddin Ibnu Ayyupa’, dalam khutbahnya mengingatkan bahwa perbedaan hari raya yang terjadi di tengah umat Islam bukanlah persoalan mendasar dalam agama, melainkan bagian dari dinamika ijtihad yang telah lama dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.

“Yang berbahaya bukan perbedaan harinya, tetapi ketika perbedaan itu merusak hati dan memecah ukhuwah,” tegasnya di hadapan jamaah.

Mengangkat tema “Parameter Keberhasilan Ramadhan di Tengah Perbedaan Idul Fitri”, ia mengajak umat untuk mengalihkan fokus dari perdebatan menuju evaluasi diri pasca Ramadhan.

Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari keseragaman hari raya, tetapi dari tiga hal mendasar:
– kemampuan menjaga hati dari perpecahan
– kemampuan menjaga lisan dari menyakiti
– kemampuan menjaga ukhuwah di tengah perbedaan

Menurutnya, realitas perbedaan sering kali diperkeruh oleh sikap emosional dan ucapan yang tidak terjaga, sehingga memicu gesekan di tengah masyarakat.

“Ramadhan melatih kita bukan hanya menahan lapar, tapi juga menahan ego, menjaga lisan, dan membersihkan hati,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kedewasaan dalam beragama, dengan tetap menghormati perbedaan pilihan dalam penetapan hari raya.

“Yang sudah lebaran, hormati yang belum. Yang belum, jangan menyalahkan yang sudah. Di situlah letak kematangan iman,” lanjutnya.

Khutbah yang disampaikan pada Jum’at, 29 Ramadhan / 1 Syawal 1447 H tersebut berlangsung khidmat dan mendapat perhatian serius dari jamaah.

Pesan yang disampaikan diharapkan menjadi pengingat bahwa persatuan umat tidak ditentukan oleh keseragaman waktu, melainkan oleh kemampuan menjaga hati dan ukhuwah di tengah perbedaan. (*)

YouTube player