RAKYAT.NEWS, MAKASSAR – Setidaknya terdapat sebanyak 1.500 spesies burung di seluruh dunia yang diduga harus punah akibat dari aktivitas atau ulah manusia.

Menurut jurnal Nature Communications, mengungkapkan bahwa hampir semua kepunahan ini diperkirakan terjadi akibat aktivitas manusia, mulai dari perburuan atau memakan burung hingga perusakan habitat dan masuknya spesies invasif.

Penulis utama jurnal Nature Communications, Rob Cooke, mengatakan bahwa studi ini menunjukkan bahwa betapa besarnya dampak yang dihasilkan manusia terhadap kepunahan dari ribuan jenis atau spesies burung dari seluruh dunia tersebut.

“Studi kami menunjukkan bahwa dampak manusia terhadap keanekaragaman burung jauh lebih besar dibandingkan yang diketahui sebelumnya. Manusia dengan cepat menghancurkan populasi burung melalui hilangnya habitat, eksploitasi berlebihan, dan masuknya tikus, babi, dan anjing yang menyerang sarang burung dan bersaing dengan mereka untuk mendapatkan makanan,” kata Rob.

Rob menegaskan, bahwa bila dibandingkan dengan organisme lain, tingkat kepunahan burung lebih sulit dipelajari karena tulangnya yang halus. Ia menjelaskan, bahwa berdasarkan rekaman spesies yang ada sebagian besar penelitian sebelumnya hanya fokus terkait kepunahan burung selama 500 tahun terakhir, sehingga tidak termasuk semua spesies yang telah punah sebelum pencatatan dimulai.

Rob menambahkan, bahwa penelitian ini memberikan hasil catatan penemuan berupa fosil di sejumlah pulau, termasuk Fiji, Hawaii, Selandia Baru, dan Kepulauan Pasifik Barat lainnya, yang dimana 55 persen dari kepunahan ini belum ditemukan.

“Kami menunjukkan bahwa banyak spesies punah sebelum catatan tertulis dan tidak meninggalkan jejak, hilang dari sejarah.”

Kepunahan ini umumnya banyak terjadi dari awal periode Holosen hingga akhir periode Pleistosen Akhir atau sekitar 11.700 tahun lalu, tepat setelah berakhirnya zaman es terakhir.

“Sulit untuk membandingkan kelompok taksonomi yang berbeda tetapi (sekitar) 350 mamalia telah punah sejak Pleistosen Akhir,” ujar Rob dilansir dari Newsweek.